@qUariUm BloGGers

Monday, August 10, 2009

KEPEKAAN MIKROBA TERHADAP ANTIMIKROBA

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Mikroorganisme adalah makhluk hidup yang memiliki aktivitas yang berupa tumbuh dan berkembang. Kadang kala pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme ini terganggu. Hal ini dapat dipengaruhi baik dari mikroba itu sendiri ataupun dari luar. Salah satu pengaruh yang paling berkompoten adalah antimikroba (Gobel, 2008)..
Anti mikroba adalah senyawa yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme hidup. Senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri disebut bakteriostatik dan yang dapat membunuh bakteri disebut bakterisida. Atau dengan kata lain disebut juga antiboitika yaitu bahan-bahan yang bersumber hayati yang pada kadar rendah sudah menghambat pertumbuhan mikroorganisme hidup (Gobel, 2008)..
Antimikroba selain diperoleh dari bahan-bahan sintetik akhir-akhir ini banyak ditemukan berbagai macam antimikroba dari bahan alam seperti pada tanaman, rempah-rempah atau dari mikroorganisme (Gobel, 2008).
Akan tetapi mikroorganisme memilki kepekaan yang spesifik terhadap zat antimikroba. Kadang kala suatu mikroba peka terhadap suatu mikroba tetapi tidak peka terhadap antimikroba lain. Oleh karenanya dilakukanlah percobaan kali ini guna mengetahui kepekaa mikroba terhadap antimikroba yang dalam hal ini digunakan antimikroba yang berasal dari tanaman dan larutan antibiotik.


I.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
Untuk mengetahui kepekaan mikroba terhadap antimikroba yang berasal dari tanaman dan antibiotik, serta untuk mengukur zona hambatan.


I.3 Waktu dan Tempat Percobaan
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 26 Maret 2009, pukul 14.00- 17.30 WITA dan bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Antimikroba adalah senyawa yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme hidup. Senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri disebut bakteriostatik dan yang membunuh bakteri disebut bakteriosida (Gobel, 2008).
Suatu zat antimikroba yang ideal memiliki toksisitas tidak membahayakan inang. Toksisitas selektif dapat berupa fungsi dari suatu reseptor khusus yang dibutuhkan untuk perlekatan obat atau dapat bergantung pada penghambatan proses biokimia yang penting untuk parasit tetapi tidak untuk inang (Gobel, 2008).
Kebanyakan antibiotika ditemukan pada pelaksanaan “program penapisan”. Program demikian yang dimulai dengan pengapungan dalam cuplikan tanah melalui tahap sampai percobaan hewan. Pada uji deretan pengenceran, antibiotika diencerkan dengan larutan biak yang telah ditanami dengan kuman uji menurut tahapan pengenceran (Gobel, 2008).
Kebanyakan organisme aerob yang mengoksidasi karbohidrat menjadi karbondioksida dan air menggunakan daur asam sitrat untuk oksidasi akhir asetat. Bakteri mampu mengurai berbagai senyawa yang mencakup karbohidrat, protein, asam nukleat dan lemak (Gobel, 2008).
Selama fermentasi berlangsung, hasil antara yang terjadi karena katabolisme suatu substrat organik (seperti glukosa) bertindak sebagai penerima elektron terakhir, yang demikian diperoleh hasil fermentasi yang stabil.Suatu zat antibiotik kemoterapeutik yang ideal hendaknya memiliki sifat-sifat sebagai berikut (Fardiaz, 1992) :
1. Harus mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat mikroorganisme patogen
spesifik. Makin besar jumlah dan macam mikroorganisme yang dipengaruhi, makin
baik. Antibiotik berspektrum luas efektif terhadap banyak spesies.
2. Tidak mengakibatkan berkembangnya bentuk-bentuk resisten parasit.
3. Tidak menimbulkan efek sampingan yang tidak dikehendaki pada inang, seperti
reaksi alergis, kerusakan pada saraf, iritasi pada ginjal atau saluran
gastrointestin.
4. Tidak melenyapkan flora mikrobe normal pada inang. Gannguan terhadap flora normal
dapat mengacaukan “keseimbangan alamiah”, sehingga memungkinkan mikrobe yang
biasanya non patogenik atau bentuk-bentuk patogenik yang semula dikendalikan oleh
flora normal, untuk menimbulkan infeksi baru. Penggunaan antibiotik berspektrum
luas
untuk waktu lama misalnya dapat melenyapkan flora bakteri normal tetapi tidak melenyapkan Monilia (cendawan) dari saluran pencernaan. Dalam keadaan demikian Monilia dapat menimbulkan infeksi.
5. Harus dapat diberikan melalui mulut tanpa diinaktifkan oleh asam lambung, atau
melalui suntikan (parenteral) tanpa terjadi pengikatan dengan protein darah.
6. Memiliki taraf kelarutan yang tinggi dalam zat alir tubuh.

Berdasarkan mekanisme kerjanya dapat digolongkan menjadi (Bibiana, 1992) :
1. Penghambatan pertumbuhan oleh analog
Dalam kelompok ini termasuk sulfonamida. Pada umumnya bakteri memerlukan para-aminobensoat (PABA) untuk sintesis asam folat yang diperlukan dalam sintesis purin. Sulfonamida memiliki struktur seperti PABA, sehingga penggunaan sulfonamida menghasilkan asam folat yang tidak berfungsi.
2. Penghambatan sintesis dinding sel
Perbedaan struktur sel antara bakteri dan eukariot menguntungkan bagi penggunaan bahan antimikrobial. Penicilin dan Cephalosporin sebagai contoh klasik. Kedua antibiotik ini menyebabkan penghambatan pada pembentukan iakatan sebrang silang.
Pada konsentrasi rendah, penicillin menghambat pembentukan ikatan glikosida, sehingga pembentukan dinding sel baru akan terganggu . Sebagai akibat terlihat bakteri dengan bentuk sel yang panjang tanpa dinding sekat. Pada konsentrasi tinggi, ikatan sebrang silang terganggu dan pembentukan dinding sel terhenti. Penghambatan pembentukan ikatan sebrang silang disebabkan kedua antibiotik tersebut merupakan analog dari D-ala.
Peptodoglikan yang merupakan sasaran utama kedua antibiotik ini tidak ditemukan pada eukariot, sehingga efek toksiknya tidak ada pada inang.
3. Penghambatan fungsi membran sel
Membran sel bakteri dan fungi dapat dirusak oleh beberapa bahan tertentu tanpa merusak sel inang. Polymxin berdaya kerja terhadap bakteri Gram-negatif, sedangkan antibiotik polyene terhadap fungi. Namun demikian penggunaan keduan antibiotik ini tidak dapat ditukar balik. Ini berarti bahwa polymixin tidak berdaya kerja terhadap fungi. Hal ini disebabkan karena membran sel bakteri pada umumnya tidak mengandung sterol, sedangkan pada fungi ditemukan sterol. Polyene harus bereaksi dengan sterol dalam membran sel fungi sebelum memp[unyai kemampuan merusak membran.
4. Penghambatan Sintesis protein
Kebanyakan antibiotic ditemukan pada pelaksanaan "program penapisan ". program demikian yang dimulai dengan pengapungan dalam cuplikan tanah melalui tahap sampai percobaan hewan. Pada uji deretan pengenceran, antibiotic diencerkan dengan larutan biak yang telah ditanami dengan kuman uji menurut tahap pengenceran.
Antibiotik-antibiotik ini pertama ditemukan secara kebetulan karena membentuk cincin-cincin hambatan. Di atas cawan agar biak yang ditumbuhi secara padat dengan kuman uji nampak terjadi pertumbuhan disekeliling koloni fungi atau streptomiset; antibiotika yang berdifusi ke luar koloni ke dalam agar dan mengakibatkan pembentukan cincin-cincin hambatan di dalam lapangan pertumbuhan bakteri yang padat. Sebagai kuman uji digunakan mikroorganisme yang representative. Uji kualitatif dari pembuat antibiotic sudah terpenuhi dengan menumbuhkannya dipusat sebuah lempengan agar biak dengan masing-masing bakteri indicator yang dioleskan secara radial. Sesudah inkubasi dapat diketahui spectrum pengaruh antibiotic dengan manilai besarnya hamabatan pertumbuhan dari masing-masing organisme indicator. Dengan menilik pengaruhnya terhadap gram positif dan negative, terhadap ragi, dermatofit dan mikroorganisme lain, antiniotik menunjukkan perbedaan-perbedaan karakter istik (Schlegel, 1994).
Sebelum suatu antibiotidigunakan untuk keperluan pengobatan, maka terlebih dahulu antibiotic diuji terhadap spesies bakteri tertentu. Pada medium agar yang telah disebari spesies bekteri tertentu diletakkan beberapa konsentrasi tertentu. Jika sudah 24 jam, kemudian tidak nampak pertumbuhan bakteri maka hal demikian berarti bakteri itu tersekik pertumbuhannya oleh antibiotic yang terkandung dalam kepingan kertas. Besar kecilnya daerah kosong sekitar kepingan kertas sesuai dengan konsentrasi antibiotic yang terkandung di dalamnya. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis, formaldehid, alcohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulfonamide dan antibiotik (Dwijoseputro, 1989)..
Antibiotik yang efektif bagi spesies bakteri baik kokus, basil maupun spiral dikatakan mempunyai spectrum luas. Penicillin hanya efektif untuk memberantas terutama jenis kokus oleh karena itu penisilin dikatakan mempunyai spektrum luas (Dwijoseputro, 1989).
Banyak faKtor dan keadaan dapat mempengaruhi penghambatan atau pembasmian mikroorganisme oleh bahan atau proses antimikrobial. Kesemua ini harus dipertimbangkan bagi efektifnya penerapan praktis metode-metode pengendalian (Pelczar, 1988).


BAB III
METODOLOGI
III.1.1 Alat
Alat yang digunakan yaitu botol pengencer, pipet tetes, cuvet, autoklaf, corong, timbangan OHAUS, sentrifus, enkas, cawan petri, sendok tanduk, lampu spirtus, rak tabung, botol fial, Laminary Air Flow, dan inkubator.

III.2 Bahan
Bahan yang digunakan yaitu ekstrak bawang putih, ekstrak sambiloto, ekstrak kunyit putih, aquades, amoksisilin, ampisilin, kertas label, kertas saring, aluminium foil, medium Nutrien Agar (NA), alkohol 70 %, tissue, paper disk, biaakn Bacillus subtilis, biakan Salmonella typii, dan swab steril.
III.2 Cara Kerja
a. Kepekaan Mikroba Terhadap Antimikroba Asal Tanaman
- Menimbang kunyit putih, bawang putih, dan daun sambiloto masing-masing 20 gram serta air sebanyak 20 ml
- Membuat ekstrak masing-masing bahan dengan menggunakan blender untuk menghaluskannya keudian menyaringnya dengan penyaring dan kertas saring agar ampas tidak ikut terambil
- Mengisi botol pengencer dengan aquades sebanyak 9 ml lalu membuat pengenceran masing -masing bahan
- Membuat pengenceran 10-1,10-2, dan 10-3 masing-masing bahan dengan cara mengambil 1 ml ekstrak lalu memasukkannya dalam botol pengencer 10-1 lalu menghomogenkannya. Setelah itu, membuat pengenceran 10-2 dengan cara mengambil 1 ml dari pengenceran 10-1 lalu menghomogenkannya, begitupun dengan pengenceran 10-3 dengan cara mengambil 1 ml dari pengenceran 10-2 lalu menghomogenkannya
- Memasukkan masing-masing bahan dalam cuvet lalu melakukan sentrifus selama 35 menit untuk memisahkan natan dan supernatannya.
- Mengambil supernatan lalu menempatkannya dalam botol fial dan merendam kertas disk pada masing-masing bahan yang telah dimasukkan dalam botol fial
- Menuang medium NA cair ke dalam 6 buah cawan petri dan menunggunya sampai padat. Membagi tiga masing-masing cawan petri untuk pengenceran
10-1, 10-2, dan 10-3. Masing-masing ekstrak 2 cawan petri, 1 untuk Bacillus subtilis dan 1untuk Salmonella typii
- Menggores medium NA dengan ose bulat yang telah diolesi bakteri
- Mengambil kertas disk yang telah direndam dalam supernatan dan memasukkannya dalam cawan petri pada setiap pengenceran masing-masing 1 kertas disk
- Menuang sisa supernatan ke dalam cawan petri lain, lalu melakukan isolasi dengan cara tuang yaitu menuangkan medium NA cair ke atas supernatan lalu memutarnya tujuh kali ke kiri dan tujuh kali ke kanan
- Membagi 2 bagian cawan petri, ½ untuk Bacillus subtilis dan ½ untuk Salmonella typii
- Menggores medium NA dengan bakteri di atas dengan menggunakan ose bulat setelah medium NA padat
- Menginkubasikan semua capet selama 1-2x24jam
- Mengamati perubahan yang terjadi
B. Kepekaan Mikroba Terhadap Antimikroba Asal Antibiotik
- Menghaluskan antibiotik amoksisilin dan ampisilin lalu menimbangnya sebanyak 1,3 gram dengan neraca OHAUS kemudian mencampurnya dengan aquades sebanyak 10 ml dan menghomogenkannya
- Mengisi botol pengencer dengan aquades sebanyak 9 ml lalu membuat pengenceran masing -masing bahan
- Membuat pengenceran 10-1,10-2, dan 10-3 masing-masing bahan dengan cara mengambil 1 ml ekstrak lalu memasukkannya dalam botol pengencer 10-1 lalu menghomogenkannya. Setelah itu, membuat pengenceran 10-2 dengan cara mengambil 1 ml dari pengenceran 10-1 lalu menghomogenkannya, begitupun dengan pengenceran 10-3 dengan cara mengambil 1 ml dari pengenceran 10-2 lalu menghomogenkannya
- Memasukkan masing-masing bahan dalam cuvet lalu melakukan sentrifus selama 35 menit untuk memisahkan natan dan supernatannya.
- Mengambil supernatan lalu menempatkannya dalam botol fial dan merendam kertas disk pada masing-masing bahan yang telah dimasukkan dalam botol fial
- Menuang medium NA cair ke dalam 6 buah cawan petri dan menunggunya sampai padat. Membagi tiga masing-masing cawan petri untuk pengenceran 10-1, 10-2, dan 10-3. Masing-masing ekstrak 2 cawan petri, 1 untuk Bacillus subtilis dan 1untuk Salmonella typii
- Menggores medium NA dengan ose bulat yang telah diolesi bakteri
- Mengambil kertas disk yang telah direndam dalam supernatan dan memasukkannya dalam cawan petri pada setiap pengenceran masing-masing 1 kertas disk
- Menuang sisa supernatan ke dalam cawan petri lain, lalu melakukan isolasi dengan cara tuang yaitu menuangkan medium NA cair ke atas supernatan lalu memutarnya tujuh kali ke kiri dan tujuh kali ke kanan
- Membagi 2 bagian cawan petri, ½ untuk Bacillus subtilis dan ½ untuk Salmonella typii
- Menggores medium NA dengan bakteri di atas dengan menggunakan ose bulat setelah medium NA padat
- Menginkubasikan semua capet selama 1-2x24jam
- Mengamati perubahan yang terjadi
2 Pembahasan
a. Kepekaan mikroba terhadap antimikroba asal tanaman
Percobaan ini menggunakan ekstrak kunyit putih, bawang putih, dan daun sambiloto yang berfungsi sebagai antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Bawang putih mengandung minyak atsiri yang bersifat antibakteri dan antiseptik. Kunyit putih juga mengandung minyak atsiri yang dapat memberi efek antimikroba selain itu kunyit putih juga mengandung curcumin yang memiliki aktivitas antioksidan. Sambiloto mengandung flavanoid yang merupakan antibakteri terhadap Staphylococcus aereus dan Eschericia coli. Pada percobaan ini digunakan pengenceran 10-1, 10-2, dan 10-3. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengenceran yang lebih kaut dalam menghambat pertumbuhan mikroba.
Berdasarkan teori, pengenceran 10-1 seharusnya terdapat sedikit bakteri karena larutannya lebih pekat. Berdasarkan pengamatan diperoleh pada bawang putih pengenceran 10-1 terdapat 1 koloni Salmonella typii dan 10 bakteri Bacillus subtilis, pengenceran 10-2 terdapat 1 koloni Salmonella typii dan 29 bakteri Bacillus subtilis, serta pengenceran 10-3 sama-sama terdapat 19 bakteri baik Salmonella typii dan Bacillus subtilis. Hal ini menunjukkkan bahwa percobaan ini sesuai dengan teori dimana lebih sedikit bakteri yang tumbuh pada pengenceran 10-1 yang menunjukkan larutannya pekat sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba terutam Salmonella typii.
b. Kepekaan mikroba terhadap antimikroba asal antibiotik
Percobaan ini menggunakan antibiotik berupa amoksisilin dan ampisilin dimana kedua-duanya merupakan penisilin. Penisilin merupakan kelompok antibiotika Beta Laktam yang telah lama dikenal. Penisilin dapat menghambat pertumbuhan mikopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, penisilin akan menghasilkan efek bakterisida (membunuh kuman) pada mikroba yang sedang aktif membelah. Dalam keadaan metabolik tidak aktif (tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh penisilin, kalaupun ada pengaruhnya hanya bakteriostatik (menghambat perkembangan). Berdasarkan hasil pengamatan, baik pada amoksilin maupun ampisilin pada pengenceran 10-1 terdapat sedikit bakteri dibandingkan dengan pengenceran 10-2 dan 10-3. Hal ini sesuai dengan teori dimana pengenceran yang lebih pekat yang lebih kuat menghambat pertumbuhan mikroba. Amoksisilin dan ampisilin juga lebih peka dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typii daripada Bacillus subtilis.
c. Kepekaan mikroba terhadap antimikroba yang menggunakan kertas disk
Pada percobaan yang menggunakan kertas disk digunakan ampisilin, amoksisilin, bawang putih, kunyit putih, dan sambiloto. Kertas disk berfungsi sebagai penghambat perkembangan mikroba yang ditandai dengan adanya daerah bening di sekitar daerah kertas disk. Pada bakteri Bacillus subtilis hanya bakterisida berupa ampisilin yang menimbulkan daerah bening di sekitar kertas disk yaitu pada pengenceran 10-1. Pad bakteri Salmonella typii bakerisida berupa amoksisilin dan bawang putih yang menimbulkan daerah bening di sekitar kertas disk. Hal ini menunjukkan bahwa ampisilin dapat menghambat pertumbuhan dari bakteriBacillus subtilis sedangkan amoksisilin dan bawang putih dapat enghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typii.




BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan percobaan ini adalah :
1. Antimikroba yang berasal dari tanaman dapat menghambat pertumbuhan mikroba yang ditandai dengan sedikitnya mikroba yang hidup dan adanya daerah bening di sekitar paper disk pada antimikroba berupa bawang putih. Yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan mikroba adalah bawang putih. Bawang putih, kunyit putih, dan sambiloto dapat menghambat pertumbuhan bakteri karena mengandung minyak atsiri dan curcumin.
2. Antimikroba yang berasal dari tanaman dapat menghambat pertumbuhan mikroba yang ditandai dengan sedikitnya mikroba yang hidup dan adanya daerah bening pada antimikroba ampisilin dan amoksisilin. Yang paling baik dalam menghambat pertumbuhan mikroba adalah ampisilin.
V.2 Saran
Sebaiknya alat-alat laboratorium diperbanyak dan alat-alat yang rusak segera diperbaiki agar praktikum dapat berjalan dengan lancar






DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D., 1989. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Malang.
Fardias, S., 1990. Mikrobiologi Pangan,ITB, Bandung.
Gobel, B. Risco, Zaraswati Dwyana, As`adi Abdullah. 2002. Mikrobiologi Umum Dalam Praktek. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Lay, Bibiana, dkk., 1992. Mikrobiologi. Rajawali Press. Bandung.
Pelczar, Michael., dan E.C.S. Chan., 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi.UI Press. Jakarta
Schlegel G Hans., 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment

TeNtanG DiRiQ_

My Photo
I’m collage in Hasanuddin University Fakultas MIPA Biology
There was an error in this gadget